Pagi yang cerah dan bunga yang telah merekah, merupakan pemandangan
yang sangat indah dari kuasa Allah, yang seakan ingin kutuliskan
sebagaimana namaku Maria, Maria Ulfa Salsabilla ya itu nama
lengkapku. Aku duduk dibangku kelas VIII SMP Merah Putih, aku berumur
14 tahun, yang disekolah sering sekali makan permen atau dijuluki
anak LOLY, bahkan aku pernah dihukum karena aku memakan permen
dikelas, aku ingin menceritakan sedikit pengalaman aneh.
Waktu itu jam beker berbunyi menunjukkan pukul 06.00 aku segera
cepat-cepat bangun dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Aku langsung
berinjak dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi. setelah itu aku
langsung memakai seragam kesukaanku yaitu seragam batik berpita
besar, berwarna pink yang dipasangkan dikerah untuk menggantikan dasi
berwarna biru, aku langsung bergegas turun untuk berpamitan tetapi
sesampainya aku dibawah, semuanya sepi dan sarapanpun tidak ada
diatas meja. Akhirnya aku pergi ke sekolah tanpa berpamitan ataupun
sarapan, aku pergi kesekolah jalan kaki karena aku tidak bisa naik
sepeda, aku berjalan cepat untuk menuju ke sekolah.
Saat sesampainya aku disekolah, aku langsung cepat-cepat menuju ke
ruang kelas karena aku malu jika terlambat, tetapi saat sesampainya
aku di kelas hanya ada 5 orang temanku saja disana, akupun langsung
duduk di kursi yang paling belakang tanpa menyapa ataupun bergabung
dengannya, karena aku tidak suka dengan sifatnya yang suka
berfoya-foya, suka shoping kesana kemari, menghamburkan-hamburkan
uang, mengejek orang, membeli barang yang tidak bermanfaat atau kata
orang zaman sekarang adalah anak royal. Beberapa menit kemudian bel
masuk berbunyi, teman-temanku langsung berdatangan dan tak mau kalah,
guru fisika ku yang cantik juga masuk ke kelasku, tetapi saat itu
teman-temanku banyak yang tidak masuk, bahkan Mita sahabatku tidak
terlihat batang hidungnya, guruku yang cantik itu berdiri di depan
kelas menyapa dan berkata “Selamat pagi anak-anak, hari ini kita
sedang berduka, semoga teman kita berada disamping Tuhan, berdo’a
menurut kepercayaan masing-masing, berdo’a mulai.” Lho, temanku
meninggal? Siapa? Kenapa bisa ketinggalan zaman? Padahal baru satu
hari aku tidak masuk sekolah, gumamku waktu itu.
Jam istirahat berbunyi aku segera keluar kelas. Tapi semuanya terasa
berbeda, tidak seperti biasanya akupun langsung pergi ke
perpustakaan, saat itu aku duduk termenung, aku memikirkan sesuatu
entah apa yang kupikirkan, aku merasa menyendiri, aku kesepian
padahal disana banyak sekali orang, aku langsung keluar dari
perpustakaan dan bergegas pergi ke kantin. Aku duduk dikursi seperti
biasanya, tetapi saat itu aku memanggil Ibu Sur atau ibu kantin Ibu
Sur malah tidak mendengar. Padahal ibu Sur tidak sibuk sama sekali.
Aku sangat lapar sekali karena dari pagi aku tidak makan apapun.
Akhirnya aku kembali ke kelas tanpa membawa makanan ataupun minuman,
tapi aku malah membawa emosiku yang tak jelas itu. Sebentar lagi jam
masuk berbunyi. Aku segera mengeluarkan mapel berikutnya yaitu
Matematika. Teman-temanku sudah duduk dengan rapi menunggu soal
matematika dari guruku yang sabar itu. Tetapi saat guruku mengulangi
materi dan memberikan soal, semuanya terdiam, kelaspun menjadi sunyi
senyap entah apa yang terjadi. “Siapa yang bisa mengerjakan soal
ini dengan benar, Bapak akan menambah nilai pada raport kalian.”
Kata pak guru yang seakan memberi semangat. Akhirnya dengan berani
aku mengacungkan tanganku karena itu adalah soal yang mudah, tetapi
guruku tidak merespon sedikitpun padaku, mungkin karena aku yang
pendek atau duduk di kursi paling belakang sehingga guruku yang sudah
lumayan tua itu dan penglihatan yang kurang tidak bisa melihat aku,
karena terhalang tembok China, eh maksudku terhalang oleh
teman-temanku yang berbadan besar.
Jam demi jam telah berlalu, akhirnya jam pulang berbunyi, aku segera
memasukkan buku-buku dan meninggalkan kelas dan teman-temanku
tersayang. Aku keluar dari gerbang sekolah, dan menunggu ayahku untuk
menjemput, tetapi ayahku sangat lama sekali hingga sekolah menjadi
sepi. Dengan rasa berani, aku ingin menaiki angkutan walaupun sedikit
ketakutan yang masih mengganjal dihatiku, karena ini adalah pertama
kalinya aku menaiki angkutan sendiri tanpa ditemani oleh Mita atau
kawanku yang lain. Jika tidak ada Mita atau kawanku yang lain, aku
lebih memilih jalan kaki saja, tetapi entah kenapa tiba-tiba
keberanianku terkumpul sebanyak ini.
Aku telah melambaikan tanganku hingga beberapa kali, tapi tidak ada
satupun angkutan yang rela berhenti untukku. “Entah apa yang salah
dariku? Sampai-sampai tidak ada satupun angkutan yang berhenti,
apakah harus memakai rumus untuk menghentikan angkutan?” Sambil
mengendalikan emosiku yang seperti Popcorn. Tidak lama kemudian, ada
satu angkutan yang berhenti, tetapi itu bukan dari hasilku, melainkan
ada ibu-ibu yang telah berhasil menemukan rumus menghentikan
angkutan, aku langsung cepat-cepat menaiki angkutan, agar tidak
ketinggalan, sambil duduk aku mempunyai rencana untuk pergi ke rumah
Mita, aku ingin tau kenapa Mita tidak berangkat sekolah tanpa membawa
surat izin apapun.
Tiba-tiba disaat aku ingin berhenti, angkutan ini masih saja melaju
entah remnya yang blong atau pak supir yang terganggu pendengarannya,
akirnya dengan spontan, aku meloncat dari dalam angkutan dan akhirnya
usahaku sia-sia, aku meloncat dan mendarat dengan sangat mulus
sekali, ya mulus, sampai-sampai aku tercebur diselokan depan rumah
Mita. Untung saja diselokan tidak ada airnya, sehingga dengan mudah
aku naik dan memanggil Mita dari depan gerbang. Tapi sayang, tidak
ada satupun orang dirumah Mita, akhirnya aku bergegas untuk kembali
ke rumah dengan jalan kaki walaupun jarak antara rumah Mita dengan
rumahku jauh, mungkin aku masih syok dengan kejadian angkutan tadi.
Tetapi saat sesampainya dirumah, aku melihat bendera kuning berkibar
yang terpasang digerbangku, akupun terkejut karena didalam rumahku
banyak orang berdatangan, tetapi kuhapus semua rasa kegelisahanku,
disana ternyata ada Mita dan kedua orang tuanya, aku melihat Mita
menangis hingga mukanya sangat merah, karena aku tidak tega, akupun
langsung mendekati Mita dan bertanya “Mengapa kau memakai seragam
sekolah sedangkan kau tadi tidak sekolah?” tetapi pertanyaanku
tidak dijawab olehnya, akupun langsung masuk rumah, saat itu aku
masih melihat ayahku yang duduk termenung menyendiri dan mendengar
ayahku sambil menahan tangisnya “Mengapa aku tidak tau dengan semua
ini? Ayah macam apa aku ini? Mengapa ayah baru tau bahwa kau
mempunyai penyakit leukimia? Mengapa hanya kemarin saja ayah
menemanimu? Ayah mau mengahbiskan waktu yang banyak bersamamu nak…
maafkan ayah” Akupun langsung menatap ayahku dengan seribu
pertanyaan. Disana aku melihat ibuku menangis sehingga mukanya
terlihat pucat dan sangat lemas sekali, akupun ingin memeluk ibuku,
tetapi tidak bisa, aku tidak bisa memeluk ibu aku tidak bisa
menyentuh ibu ataupun mencium ibu sedikitpun, ada apa dengan aku?
Apakah ini hanya mimpi?
Lalu aku melihat anak yang tertidur didepan ibuku dan telah ditutupi
oleh kain dan saat kain itu dibuka oleh ayahku, ternyata itu aku. Itu
adalah jasadku dan aku ini cuman raga, berarti ini adlah nyata, ini
adalah hari terakhirku yang nyata, yang artinya aku telah meninggal.
Sekarang aku sudah mengetahui jawaban semuanya, semuanya yang
kuanggap aneh, dan sekarang aku sudah tiada. Mulai sekarang aku telah
sendiri, semoga kedua orang tuaku tidak lupa denganku dan kedua orang
tuaku kuat menjalankan hidup tanpaku. Selamat tinggal.
EmoticonEmoticon